Senin, 09 Mei 2016

Telah Hadir.... BUKU PAUD Berbasis Kurikulum 2013 (KURTILAS) Semester 1 dan 2




Kurikulum PAUD terdiri dari seperangkat bahan pembelajaran yang mencakup lingkup perkembangan, yaitu perkembangan moral & agama, fisik-motorik,kognitif, bahasa, dan sosial emosional. 

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 28 menyatakan bahwa: (1) Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. (2) Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal. (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk taman kanak-  kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat. (4) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat. Sedangkan Pasal 46 ayat (1) berbunyi pendanaan pendidikan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat; dan ayat (2) berbunyi pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab menyediakan anggaran pendidikan sebagaimana diatur dalam Pasal 31 ayat (4) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Berdasarkan RPJMN 2015 -2019 peningkatan akses dan kualitas PAUD secara holistik dan integratif merupakan pondasi terwujudnya pendidikan dasar 12 tahun yang berkualitas. Kebijakan Direktorat Jenderal PAUD dan Dikmas adalah memperluas layanan pendidikan anak usia dini berkualitas melalui ketersediaan Satuan PAUD yang mudah diakses, pendidik yang sesuai dengan kompetensi yang diharapkan, peningkatan kualitas partisipasi masyarakat dalam pendidikan anak usia dini, dan dukungan penyelenggaraan PAUD dari Pusat, Daerah, serta masyarakat.



Salah satu indikator keberhasilan penyelenggaraan program PAUD terutama untuk usia 3-6 tahun dapat diukur dengan Angka Partisipasi Kasar (APK) PAUD. Pada tahun 2001 APK PAUD baru mencapai sekitar 28% dan menjadi 70,1 % pada tahun 2015. Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan PAUD sangat signifikan hal ini ditunjukkan dengan adanya 190.161 lembaga PAUD yang hampir seluruhnya dikelola oleh masyarakat. Sejumlah lembaga ini terdapat 80.257 TK, 78.061 KB, 3.480 TPA, 28.649 SPS dan diantaranya terdapat 490 TK pembina.

Program Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD dapat meringankan biaya pendidikan terutama bagi anak dari keluarga tidak mampu untuk memperoleh layanan PAUD yang lebih bermutu. Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) PAUD yang dimulai sejak tahun 2002 dengan nama bantuan kelembagaan PAUD, dengan berkembangnya waktu berubah menjadi BOP PAUD pada tahun 2009.

Dalam rangka mewujudkan pengelolaan, pertanggungjawaban dan pelaporan penggunaan dana BOP PAUD yang akuntabel, tepat sasaran dan tepat waktu serta sesuai ketentuan yang berlaku, maka diterbitkan Petunjuk Teknis Penggunaan Bantuan Operasional Penyelenggaraan PAUD, agar dijadikan acuan oleh semua pihak dalam penyelenggaraan program PAUD.

Saat ini berbagai penerbit buku menerbitkan buku untuk jenjang PAUD dan TK yang berbasis Kurikulum 2013. Untuk memperoleh Buku dan Alat Peraga Edukasi dapat menghubungi kami di nomor 0878 8639 4136

Kamis, 28 April 2016

Menjelajah Tugu Khatulistiwa, Perjalanan Panjang Mencari Titik Nol Derajat Lintang



Alkisah ketika Nusantara masih dijajah oleh Kerajaan Netherland, ada sekelompok ahli yang tergabung dalam Tim Ekspedisi Geografi mendatangi sebuah daerah antah berantah di Pulau Borneo. Setelah lama mereka mencari dengan berpatokan pada alat-alat yang masih sederhana dan menggantungkan pada perhitungan posisi bintang (ilmu falak), tibalah mereka di sebuah kawasan tanah gambut yang berbatasan langsung dengan sebuah sungai yang maha lebar.

Mereka tiba di wilayah Kesultanan Kadariyah, dengan kota rayanya Pontianak. Dengan mengantongi izin dari pejabat kesultanan setempat, tim bergerak menuju lokasi yang diyakini sebagai titik nol derajat lintang. Dengan dibantu oleh beberapa orang penduduk setempat sebagai penunjuk jalan, tim menemukan lokasi yang dianggap tepat untuk dijadikan sebagai titik yang dilintasi garis equator. Segera mereka menandai lokasi tersebut dengan sebuah patok dan anak panah, dan disinilah yang kemudian hari dikenal dengan nama Tugu Khatulistiwa. Kejadian tersebut terjadi pada tujuh bulan sebelum peristiwa Sumpah Pemuda yang menyatukan semua pemuda di wilayah nusantara, atau tepatnya tanggal 31 Maret 1928.

Itulah sekilas mengenai sejarah panjang Tugu Khatulistiwa, yang terletak di kota Pontianak Utara. Untuk mendatangi tugu ini, kita dapat melalui sungai dan darat, dari arah kota. Dari kota kita singgah di alun-alun tempat penyebrangan kapal ferri dan hanya memakan waktu tidak sampai setengah jam kita sudah sampai di penyebrangan pelabuhan siantan. Penduduk pontianak menyebut kapal feri ini “pelampung”. Setelah sampai di siantan, ada angkutan kota yang siap mengantar kita ke lokasi. Setelah sekian lama berdinas di Kota Pontianak, baru kali itulah mengunjungi Tugu yang menjadi kebanggaan warga Pontianak. Ternyata sambutan petugas cukup ramah menyambut wisatawan lokal, dan setelah mengajak berkeliling lokasi, kami diberikan sertifikat dari Pemerintah Kota Pontianak, sebagai bukti telah mengunjungi Tugu Khatulistiwa.

Ada agenda acara khusus setiap tanggal 21-23 Maret dan 21-23 September setiap tahunnya. Mengapa? Karena pada tanggal tersebut terjadi peristiwa alam yang hanya ada di beberapa tempat di dunia ini. Pada tanggal tersebut matahari berada tepat pada garis khatulistiwa, atau yang disebut dengan titik kulminasi matahari. Fenomena alam yang terjadi adalah pada tepat jam 12 siang hari, kita tidak dapat melihat bayangan di sekitar tugu khatulistiwa, karena matahari tepat berada diatas kepala kita. Dan pada tanggal tersebut diadakan acara untuk mempopulerkan tugu khatulistiwa kepada wisatawan lokal maupun internasional, dengan acara yang meriah dan diliput oleh televisi nasional.

Demikian sedikit ulasan mengenai Tugu Khatulistiwa, semoga bermanfaat. Ingin rasanya kembali mengunjungi destinasi ini. Ada pepatah orang lawas disana, “sungai kapuas punya cerite, bile kite minum ainye, biar kita tlah jauh kemane, sungguh susah hndak melupakannye” yang diyakini bahwa kalau kita pernah mengunjungi kota pontianak, maka suatu hari nanti pasti akan kembali lagi ke Pontianak. Dan ini terbukti pada beberapa teman saya, yang mengunjungi Pontianak karena urusan dinas, akhirnya dia kepincut kota ini dan kerap mengunjunginya, bahkan telah menjadi warga disana.